<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/9752792?origin\x3dhttps://cintaku-rim.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
 
 

TAKDIR ( 2 ) | Wednesday, December 29, 2004


Kata takdir (taqdir) terambil dan kata qaddara berasal dari akar
kata qadara yang antara lain berarti mengukur, memberi kadar atau
ukuran, sehingga jika Anda berkata, "Allah telah menakdirkan
demikian," maka itu berarti, "Allah telah memberi
kadar/ukuran/batas tertentu dalam diri, sifat, atau kemampuan
maksimal makhluk-Nya."

Dari sekian banyak ayat Al-Quran dipahami bahwa semua makhluk
telah ditetapkan takdirnya oleh Allah. Mereka tidak dapat
melampaui batas ketetapan itu, dan Allah Swt. menuntun dan
menunjukkan mereka arah yang seharusnya mereka tuju. Begitu
dipahami antara lain dari ayat-ayat permulaan Surat Al-A'la
(Sabihisma),

"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi, yang
menciptakan (semua mahluk) dan menyempurnakannya,
yang memberi takdir kemudian mengarahkan(nya)"
(QS Al-A'la [87]: 1-3).

Karena itu ditegaskannya bahwa:

"Dan matahari beredar di tempat peredarannya
Demikian itulah takdir yang ditentukan oleh
(Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui"
(QS Ya Sin [36]: 38).

Demikian pula bulan, seperti firman-Nya sesudah ayat di atas:

"Dan telah Kami takdirkan/tetapkan
bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga
(setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir)
kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua"
(QS Ya Sin [36]: 39)

Bahkan segala sesuatu ada takdir atau ketetapan Tuhan atasnya,

"Dia (Allah) Yang menciptakan segala sesuatu, lalu Dia
menetapkan atasnya qadar (ketetapan) dengan
sesempurna-sempurnanya" (QS Al-Furqan [25]: 2).

"Dan tidak ada sesuatu pun kecuali pada sisi Kamilah
khazanah (sumber)nya; dan Kami tidak menurunkannya kecuali
dengan ukuran tertentu" (QS Al-Hijr [15]: 21).

Makhluk-Nya yang kecil dan remeh pun diberi-Nya takdir. Lanjutan
ayat Sabihisma yang dikutip di atas menyebut contoh, yakni
rerumputan.

"Dia Allah yang menjadikan rumput-rumputan, lalu
dijadikannya rumput-rumputan itu kering kehitam-hitaman"
(QS Sabihisma [87]: 4-53)

Mengapa rerumputan itu tumbuh subur, dan mengapa pula ia layu dan
kering. Berapa kadar kesuburan dan kekeringannya, kesemuanya
telah ditetapkan oleh Allah Swt., melalui hukum-hukum-Nya yang
berlaku pada alam raya ini. Ini berarti jika Anda ingin melihat
rumput subur menghijau, maka siramilah ia, dan bila Anda
membiarkannya tanpa pemeliharaan, diterpa panas matahari yang
terik, maka pasti ia akan mati kering kehitam-hitaman atau
ghutsan ahwa seperti bunyi ayat di atas. Demikian takdir Allah
menjangkau seluruh makhluk-Nya. Walhasil,

"Allah telah menetapkan bagi segala sesuatu kadarnya"
(QS Al-Thalaq [65]: 3)

Peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam raya ini, dan sisi
kejadiannya, dalam kadar atau ukuran tertentu, pada tempat dan
waktu tertentu, dan itulah yang disebut takdir. Tidak ada sesuatu
yang terjadi tanpa takdir, termasuk manusia. Peristiwa-peristiwa
tersebut berada dalam pengetahuan dan ketentuan Tuhan, yang
keduanya menurut sementara ulama dapat disimpulkan dalam istilah
sunnatullah, atau yang sering secara salah kaprah disebut
"hukum-hukum alam."

Penulis tidak sepenuhnya cenderung mempersamakan sunnatullah
dengan takdir. Karena sunnatullah yang digunakan oleh Al-Quran
adalah untuk hukum-hukum Tuhan yang pasti berlaku bagi
masyarakat, sedang takdir mencakup hukum-hukum kemasyarakatan dan
hukum-hukum alam. Dalam Al-Quran "sunnatullah" terulang sebanyak
delapan kali, "sunnatina" sekali, "sunnatul awwalin" terulang
tiga kali; kesemuanya mengacu kepada hukum-hukum Tuhan yang
berlaku pada masyarakat. Baca misalnya QS Al-Ahzab (33): 38, 62
atau Fathir 35, 43, atau Ghafir 40, 85, dan lain-lain.

Matahari, bulan, dan seluruh jagat raya telah ditetapkan oleh
Allah takdirnya yang tidak bisa mereka tawar,

"Datanglah (hai langit dan bumi) menurut perintah-Ku, suka
atau tidak suka!" Keduanya berkata, "Kami datang dengar
penuh ketaatan."

Demikian surat Fushshilat (41) ayat 11 melukiskan "keniscayaan
takdir dan ketiadaan pilihan bagi jagat raya."

Apakah demikian juga yang berlaku bagi manusia? Tampaknya tidak
sepenuhnya sama.

(... bersambung ke 3/3)




Dr. M. Quraish Shihab, M.A.

*************************
Created at 2:48 AM
*************************

 
welcome


hello

MENU

HOME

Cinta Ku

Cinta - Al- Qur'an & Hadist

Cinta - Artikel

Cinta - Berita

Cinta - Busana & Perkawinan

Cinta - Cerita

Cinta - Doa

Cinta - Kecantikan

Cinta - Kesehatan

Cinta - Liputan Khusus

Cinta - Masakan & Minuman

Cinta - Musik

Cinta - Muslimah

Cinta - Puisi

Cinta - Rukun Iman & Islam

Links


Archieve

December 2004[x] January 2005[x] October 2005[x]